Kamis, 18 September 2014

RINTIHAN TANAH BORNEO

Hujan pertama yang turun dibulan September, setelah 2 bulan musim kemarau menghiasi borneo,
sementara setiap pagi hari kabut asap selalu menyelimuti kota ini, ada- ada saja ulah pembakar liar yang kurang perduli terhadap lingkungan, dengan dalih membuka lahan, membakar berhektar-hektar lahan rimba Kalimantan, oh kalimantanku.
Terlihat diujung selatan sana awan mendung menghiasi langit nan muram durja, angin kencang sedikit berhembus kearah tenggara,Akhirnya tetes tetes airpun  berjatuhan membasahi tanah yang kering kerontang ini dan aku lihat secercah senyuman dihati orang-orang yang ada disini,rupanya mereka merindukannya.

rasa damai yang diberikan Tuhan membuat ku merasa nyaman
beberapa dari mereka berkata,
 “hujan buatan tuh”. !
“bukan ini hujan asli, soalnya langitnya gelap sekali”.
kenyataannya ini memang hujan buatan yang disengaja untuk memadamkan api sekaligus menghilangkan kabut asap diwilayah ini selama sebulan ini.
Satu hal yang disadari, Mereka sepertinya ikut bersuka cita atas kehadiran hujan.
tetes air yang jatuh dari langit sedikit,namun member arti. Angin kencangpun menyambut datangnya tetes-tetes air  hujan yang akan jatuh kebumi, sehingga yang tercipta hanya gerimis gerimis tipis berjatuhan ketanah.
Salah seorang dari mereka berkata,” semoga hujannya lebat, sehingga bisa menghilangkan kabut asap dikota ini”!
“ya, semoga saja”, kata salah seorang dari mereka lagi.
Tentu kita tahu bahwa membakar hutan ataupun lahan secara besar -besaran dilarang dan bias terkena tindak pidana,yang jadi pertanyaan sekarang, apa cerita dibalaik kejadian sekarang ini. Pembakaran lahan secara besar-besar yang menyebabkan kabut  tebal, merusak ekosistem alam, dan tentu saja merusak keseimbangan kehidupan.
Kabut tebal di tanah Kalimantan bukan hal baru, setiap tahun disaat bulan kemarau pasti terjadi Kabul tebal menyelimuti kota, desa dan daerah daerah tertentu , pembakaran hutan besar besaran, penebanagan liar, illegal logging,illegal mining, bahkan tambang resmipun ikut ambil bagian dalam peruusakan ekosistem di alam borneo.
Berjuta- juta ton batubara dikeruk,diekspor, berkubik-kubik kayu yang ditebang dari pedalaman hutan Kalimantan,ujung ujungnya habis dibabat oknum-oknum rakus, yang tidak pernah puas, mungkin sampai mereka terkubur bersama tanah ini, dan saya tekankan disini, Oknum-oknum rakus!

Sebagai putra daerah, pasti ada rasa miris pada bumi pertiwi ini, dikeruk, ditebang, dirusak, dibakar, dan sungguh ironis.
malapetaka apa yang akan datang nanti kalau ini tidak berhenti hari ini dan detik ini, semoga kita kaum generasi muda, orang-orang yang berpengetahuan, orang-orang yang terpelajar, orang yang bisa mengeja dari A sampai Z, bisa berhitung dari 1 sampai 10, tidak akan berbuat kejalan yang salah dan membuat kehidupan ini menjadi damai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar